contoh makalah perencanaan bisnis

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”PERENCANAAN BISNIS”.  Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Ciamis, 27 Juni 2013

penulis
Chandra Yulindra

DAFTAR ISI




BAB I PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Usaha budidaya ikan lele merupakan usaha yang mudah dijalankan, dalam merencanakan bisnis budidaya ikan lele, kami berencana  ingin membudidayakan ikan lele di sekitar rumah saya (hadi) yang berada di jalan perjuangan 3, karena mempunyai halaman yang cukup luas untuk membuat kolam, serta agar dapat mengawasi perkembangan ikan dengan baik. Jenis ikan lele yang kami budidaya adalah jenis ikan lele sangkuriang. JenisLele sangkuriang adalah ikan budidaya air tawar yang sangat populer. Lele disukai konsumen karena berdaging lunak, sedikit tulang, tidak berduri, dan murah.
Dari sisi budidaya, lele relatif tidak memerlukan banyak perawatan dan memiliki masa tunggu panen yang singkat. Peluang usaha budidaya ikan lele merupakan salah satu peluang usaha yang cukup  diperhitungkan saat ini. Apabila perhatikan banyak terdapat  penjual pecel lele yang memerlukan pasokan ikan lele setiap harinya, hal inilah yang membuat permintaan  ikan tersebut menjadi semakin tinggi di pasaran dan membuka potensi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Ternak ikan lele relatif  lebih mudah apabila dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas atau mujair karena lebih tahan terhadap penyakit maupun kondisi lingkungan. dalam usaha ternak atau budidaya lele semakin menginspirasi banyak orang untuk ikut terjun dan berharap meraih kesuksesan dalam usaha ini. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya informasi dari beberapa media tentang peluang usaha budidaya ikan lele yang semakin menjanjikan karena pasarnya yang luas dan permintaan akan ikan lele yang terus meningkat, bahkan belakangan ini telah ramai dibicarakan bahwa ikan lele akan ikut andil dalam komoditi ekspor, dikarenakan ada beberapa negara yang memang sangat membutuhkan pasokan ikan lele. Oleh karena itu kami berkeinginan untuk membudidayakan ikan lele tersebut.

1.2  Rumusan masalah

1.      Bagaimana cara melakukan budidaya ikan lele yang baik?
2.      Bagaimana cara kita agar mampu bersaing dengan para pembisnis budidaya ikan lele?

1.3 Tujuan

1.      Untuk mengetahui cara budidaya ikan lele dengan baik
2.      Untuk dapat mengetahui cara bersaing dan unggul diantara pebisnis lain  



BAB II PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Industri

Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Bahan mentah adalah semua bahan yang didapat dari sumber daya alam dan/atau yang diperoleh dari usaha manusia untuk dimanfaatkan lebih lanjut, misalnya kapas untuk inddustri tekstil, batu kapur untuk industri semen, biji besi untuk industri besi dan baja.
Bahan baku industri adalah bahan mentah yang diolah atau tidak diolah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana produksi dalam industri, misalnya lembaran besi atau baja untuk industri pipa, kawat, konstruksi jembatan, seng, tiang telpon, benang adalah kapas yang telah dipintal untuk industri garmen (tekstil), minyak kelapa, bahan baku industri margarine.
Barang setengah jadi adalah bahan mentah atau bahan baku yang telah mengalami satu atau beberapa tahap proses industri yang dapat diproses lebih lanjut menjadi barang jadi, misalnya kain dibuat untuk industri pakaian, kayu olahan untuk industri mebel dan kertas untuk barang-barang cetakan.
Barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi, misalnya industri pakaian, mebel, semen, dan bahan bakar.
Rancang bangun industri adalah kegiatan industri yang berhubungan dengan perencanaan pendirian industri/pabrik secara keseluruhan atau bagian-bagiannya.
Perekayasaan industri adalah kegiatan industri yang berhubungan dengan perancangan dan pembuatan mesin/peralatan pabrik dan peralatan industri lainnya.
Pembangunan industri bertujuan untuk :
1.      Meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata dengan memanfaatkan dana, sumber daya alam, dan/atau hasil budidaya serta dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup;
2.      Meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara bertahap, mengubah struktur perekonomian ke arah yang lebih baik, maju, sehat, dan lebih seimbang sebagai upaya untuk mewujudkan dasar yang lebih kuat dan lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi pada umumnya, serta memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan industri pada khususnya;
3.      Meningkatkan kemampuan dan penguasaan serta mendorong terciptanya teknologi yang tepat guna dan menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuan dunia usaha nasional;
4.      Meningkatkan keikutsertaan masyarakat dan kemampuan golongan ekonomi lemah, termasuk pengrajin agar berperan secara aktif dalam pembangunan industri;
5.      Memperluas dan memeratakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta meningkatkan peranan koperasi industri;
6.      Meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil produksi nasional yang bermutu, disamping penghematan devisa melalui pengutamaan pemakaian hasil produksi dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan kepada luar negeri;
7.      Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan industri yang menunjang pembangunan daerah dalam rangka pewujudan Wawasan Nusantara;
8.      Menunjang dan memperkuat stabilitas nasional yang dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional.

2.2 Pengertian CV

CV atau Persekutuan komanditer adalah persekutuan dua orang atau lebih untuk mendirikan badan usaha yang sebagian anggotannya bertanggung jawab tidak terbatas dan sebagian anggota lain bertanggung jawab terbatas.
Dalam persekutuan ini, modal berasal dari anggota dan didaftarkan dengan menggunakan akta pendirian. Anggota persekutuan komanditer terdiri atas dua yaitu:
  1. Sekutu aktif ( persero ), sekutu ini selain menanamkan modal juga menjalankan usaha dan bertanggung jawab penuh atas maju mundurnya usaha. Tanggungjawab sekutu ini tidak terbatas pada modal saja tetapi juga atas harta kekayaan pribadi.
  2. ekutu diam (komanditer ), sekutu ini hanya sebatas menanamkan modal dan tidak menjalankan usaha. Tanggung jawab sekutu ini terbatas pada modal yang ditanamkan.
Keuntungan yang diperoleh badan usaha ini dibagikan berdasarkan perjanjian yang telah disepakati.

2.3 Alasan Memilih Rancangan dan Bentuk Badan Usaha di Atas

Dikarenakan rancangan bisnis dan bentuk usaha yang saya pilih memiliki keuntungann dan kekurangan tersendiri, juga mudah untuk dilaksanakan.

2.3.1 Kelebihan dan Kelemahan Industri

Kelebihan Industri adalah       :
1.      Terbukanya lapangan kerja
2.      Terpenuhinya berbagai kebutuhan masyarakat
3.      Pendapatan/kesejahteraan masyarakat meningkat
4.      Menghemat devisa negara
5.      Mendorong untuk berfikir maju bagi masyarakat
6.      Terbukanya usaha-usaha lain di luar bidang industri
7.      Penundaan usia nikah
Kekurangan Industri adalah    :
1.      Terjadi pencemaran lingkungan
2.      Konsumerisme
3.      Hilangnya kepribadian masyarakat
4.      Terjadinya peralihan mata pencaharian
5.      Terjadinya urbanisasi di kota-kota
6.      Terjadinya permukiman kumuh di kota-kota

2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan CV

Kelebihan CV antara lain :
1.      Prosedur pendiriannya relatif mudah
2.      Modal yang dapat dikumpulkan lebih banyak, karena didirikan banyak pihak (modal gabungan)
3.      Kemampuan untuk memperoleh kredit lebih besar
4.      Kemampuan manajemen lebih luas
5.      Manajemen dapat didiversifikasikan
6.      Struktur organisasi yang tidak terlau rumit
7.      Kemampuan untuk berkembang lebih besar
Kelemahan CV antara lain :
1.      Sebagian anggota memiliki tanggung jawab tidak terbatas
2.      Kelangsungan hidup perusahaan tidak terjamin
3.      Sulit untuk menarik kembali investasinya
4.      Apabila perusahaan berutang/merugi, maka semua sekutu bertanggung jawab secara bersama-sama

BAB III TIM MANAJEMEN

 

3.1 Pengorganisasian

Dalam perencanaan bisnis budidaya ikan lele ini, kami tidak melakukan perekrutan tenaga kerja, kami dapat bekerja sama dengan kelompok untuk menjalankan bisnis budidaya ikan lele tersebut. Baik dari pemeliharaan ikan lele, perawatan kolam dan bagian pemasaran. Dalam menjalankan bisnis budidaya ikan lele, kami akan menerapkan sistemAnalisis SWOT. Sebelum kita memulai sesuatu usaha kita harus mengetahui aspek-aspek yang dapat mempengaruhi usaha kita.
Dengan harapan supaya usaha kita dapat lancer dan sukses. Yaitu dengan melakukan analisis sebagai berikut:
1.      Straight
a.       Dengan budi baya ikan lele ini tidak terlalu memerlukan tenaga besar.
b.      Penjualan ikan lele tidak terlalu sulit, tidak seperti ikan yang lainya.
2.      Weaknes
a.       Bagi anda yang tak memiliki lahan yang cukup anda bisa membudidayakan ikan lele dengan menggunakan kolam dari terpal
3.      Opportunities
a.       Peluang usaha yang tidak pernah mati adalah usaha perikanan. Sebab setiap hari masyarakat membutuhkan ikan untuk dikonsumsi semakin meningkat.
b.      Umur pembudidayaan ikan lele yang relative singkat yang hanya kurang lebih 3 bulan membuat banyak yang memilih ikan lele untuk di budidayakan. 
4.      Threat
a.       Dalam usaha ikan lele ini harus teliti karena ikan tidak tahan dengan cuaca yang tidak setabil.
b.      Selalu mengecek kedalaman air. Kedalaman air jangan sampai kurang dari 70cm karena itu akan menghambat pertumbuhan ikan.
3.2 Konsep Bisnis
1.      Selera
Faktor utama yang menentukan kesuksesan dari usaha
budidaya ikan lele adalah selera konsumen terhadap ikan lele yang berkualitas tinggi.
2.      LifeStyle
Makanan sekarang ini bukan hanya sebagai pemuas rasa lapar, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup. "Jakarta merupakan salah satu kota yang menjadikan makanan sebagai bagian dari gaya hidup keseharian mereka,". Jika pandai melihat peluang yang ada, dan menggabungkannya dengan jenis makanan yang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, maka
usaha budidaya ikan lele berpeluang untuk disukai banyak orang. 
3.      DayaBeli                 
Saya mengungkapkan, pemantauan kawasan sekeliling lokasi tujuan akan menentukan ikan lele kualitas apa yang akan di budidayakan. Observasi akan menentukan kualitas ikan lele berdasarkan daya beli masyarakat. Jika produk yang dijual terlalu mahal, sedangkan daya beli masyarakat rendah, maka bisnis tidak akan berjalan lancar.
4.      Rencanaproduksi 
Konsep rencana produksi juga harus dipikirkan lebih lanjut. Perhatikan dengan teliti d
ari kualitas.

3.3 Gambaran secara umum tentang cara budidaya ikan lele

1.      Sistem Budidaya
Kami menggunakan 2 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1.      Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2.      Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
2.      Tahap Proses Budidaya
A.    Pembuatan Kolam
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
a.       Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.
b.      Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
c.       Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
d.      Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.
B.     Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
1.      Tulang kepala berbentuk pipih
2.      Warna lebih gelap
3.      Gerakannya lebih lincah
4.      Perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
5.      Alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda :
1.      Tulang kepala berbentuk cembung
2.      Warna badan lebih cerah
3.      Gerakan lamban
4.      Perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.
C.    Persiapan Lahan
A.    Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
1.      Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
2.      Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
3.      Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
4.      Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
B.     Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
1.      Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
2.      Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama




D.    Pemijahan
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E.     Pemindahan
Cara pemindahan :
1.      Mengurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
2.      Menyiapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
3.      Menyamakan suhu pada kedua kolam
4.      Memindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
5.      Memindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F.     Pendederan
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.
a.      Manajemen Pakan
Pakan anakan lele berupa :
1.      Pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
2.      Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
3.      Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.
b.       Manajemen Air
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
1.      Air harus bersih
2.      Berwarna hijau cerah
3.      Kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).
Ukuran kualitas air secara kimia :
1.      Bebas senyawa beracun seperti amoniak
2.      Mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).
Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.
c.        Manajemen Kesehatan
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.



BAB IV RENCANA KEUANGAN


4.1 Penghitungan Biaya

·         BIAYA TETAP
Rincian biaya tetap adalah sebagai berikut:
1.      Pembuatan 3 kolam ukuran 5x4 m      = Rp 7.000.000
2.      Disel + selang                                      = Rp 2.000.000
3.      Sumur bor                                           = Rp    500.000
4.      Jaring                                                   = Rp      50.000
Jumlah                                                 = Rp9.550.000
·         BIAYA VARIABEL
Rincian biaya variabel dalah sebagai berikut:
1.      Bibit ikan lele Rp120@2000 ekor                                    = Rp   240.000
2.      Bibi indukan dan pejantan 7000@20 ekor                       = Rp   140.000
3.      Haraga TON Rp32.000@5botol                           = Rp   160.000
4.      Harga  POC NASA Rp23.000@5botol                 = Rp   115.000
5.      Pelet ikan Rp200.000@15 karung                                    = Rp3.000.000
Jumlah                                                                  = Rp3.655.000           
Jadi modal yang akan kami keluarkan untuk memulai budidaya ikan lele tersebut berkisar Rp15.000.000 – ( biaya tetap + biaya variabel ) atau Rp15.000.000 – Rp13.205.000= Rp1.795.000, hasil dari pengurangan modal dengan biaya tetap dan biaya variabel, merupakan biaya untuk  tak terduga.


4.2 ANALISIS PENDAPATAN

Di perkirakan jika hasil 1 kali panen/3 bulan sebanyak 1500 ekor, Harga per/kg ikan lele Rp9.000 ( Rp9.000@1500= Rp13.500.000 )
Pendapatan dalam 1 tahun Rp13.500.000 x 4 = Rp54.000.000
Laba bersih yang didapat selama 1 tahun adalah
pendapatan panen/th – (( biaya variabel x 4) + biaya tetap ) =
Rp54.000.000 – (( Rp9.550.000x4) + Rp3.655.000 )=
Rp54.000.000 – ( Rp38.200.000 + Rp3.655.000 )=
Rp54.000.000 – Rp41.855.000 = Rp12.145.000
Jadi pendapatan setelah modal kembali adalah Rp12.145.000

4.3 PENGHITUNGAN BEP ( Break Even Point )

Dik :    FC = Rp9.550.000                P = Rp9.000
VC = Rp3.655.000 
hasilnya adalah: 2,6
Dibulatkan menjadi 3 unit.
Artinya kami perlu menjual 3 unit ikan lele agar terjadi BEP ( break even point ).
Artinya  uang penjualan yang harus diterima agar terjadi BEP ( break even point ) adalah Rp23.580




BAB V RENCANA PEMASARAN


Dalam satu usaha, pemasaran merupakan hal yang sangat penting, demikian juga halnya dalam pemasaran lele, namun sangat disayangkan jika kegagalan pemasaran produksi lele terjadi karena faktor usaha pemasaran yang kurang atau memang belum menjalankan strategi pemasaran lele secara maksimal.
Peluang pemasaran lele sangat besar, ini bukan sekedar slogan atau propaganda, telah banyak survey dan riset-riset pemasaran  dilakukan oleh orang-orang yang memang ahli dibidangnya, kebutuhan masyarakat akan lele konsumsi memang semakin meningkat, Sebelum membahas tata cara pemasaran lele, yang pertama kita lakukan adalah mengetahui sasaran atau target pasar ikan lele konsumsi, mungkin telah banyak diinformasikan bahwa terdapat beberapa target pasar untuk ikan lele konsumsi, diantaranya adalah ; warung pecel lele, warteg, rumah-rumah makan lainnya atau bahkan resto-resto yang sudah mulai menawarkan menu special ikan lele, ditambah lagi belakangan ini semakin banyak berkembang tempat-tempat usaha yang mengelola daging ikan lele atau yang lebih dikenal dengan istilah lele olahan, mulai dari baso lele sampai dengan lele presto, ini baru target pemasaran lele secara umum, namun untuk orang-orang yang ingin melakukan pemasaran lele hal ini jangan dianggap remeh, dari tempat-tempat inilah sebetulnya daya serap kebutuhan lele sangat tinggi.
Sebagai contoh yang mudah untuk target pemasaran lele adalah warung pecel lele yang kian menjamur dimana-mana. Analogikan saja jika di sekitar kita ada sekitar 50 warung pecel lele, ini adalah perumpamaan standart dan mungkin dalam wilayah yang radiusnya tidak terlalu luas, berdasarkan survey dilapangan, kebutuhan ikan lele konsumsi perwarung pecel lele adalah 2 s/d 3 kg/hari pada hari biasa, bahkan pada hari-hari libur bisa meningkat hingga 5 kg atau lebih perharinya, jika dikalikan saja dengan angka yang terendah yaitu 2 kg/hari x 50 warung pecel lele, maka kebutuhan lele konsumsi di daerah kita adalah 100 kg/hari atau 3 ton/bulan. Dari analogi tersebut terbukti bahwa pemasaran lele di daerah sekitar kita saja sudah merupakan peluang yang sangat besar, itu baru dari warung pecel lele saja, bagaimana dengan peluang pemasaran lele pada usaha pengelolaan daging lele yang lainnya, pastinya akan lebih banyak lagi peluang pemasaran lele yang akan didapatkan. Bahkan ada beberapa pengalaman dari para peternak lele skala rumah tangga, mereka hanya memiliki kolam di halaman rumah, saat akan panen mereka memasang plang di depan rumah, alhasil seluruh produksi lelenya laris terjual.
Langkah lain dalam pemasaran lele adalah dengan menggunakan jasa para pengepul, hal ini bisa dilakukan jika  ingin perputaran modal lebih cepat, pasalnya para pengepul biasanya akan membeli lele dalam jumlah besar, tidak jarang mereka akan memborong hasil panen secara keseluruhan, walaupun harga yang mereka tawarkan pastinya lebih murah dibanding kita harus menjualnya sendiri. Jika kita sudah bisa menguasai pasar lele di daerah sendiri, biasanya dengan sendirinya usaha ternak lele  akan berkembang seiring dengan semakin banyaknya permintaan dan relasi yang terus bertambah.



BAB VI ANALISIS LOKASI


Dalam  merencanakan bisnis     budidaya ikan lele, kami berencana ingin membudidayakan ikan lele di sekitar rumah karena mempunyai halaman yang cukup luas untuk membuat kolam, karena lokasi untuk kolam harus berhubungan langsung atau dekat dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya. Dan juga lokasi kolam berada di tempat yang teduh, tetapi tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok. kami mendirikan di sekitar rumah karena agar dapat mengawasi perkembangan ikan dengan baik.
Selain itu kami mendirikan budidaya ikan lele di rumah  karena lokasainya sanggat strategis. Karena di sepanjang jalan perjuanagn banyak sekali warung - warung pecel, warteg dan rumah makan lainy, sehingga memudahkan kami untuk mendistribusikannya.



BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Budi daya ikan lele adalah salah satu usaha yang menggiurkan, jika sudah berjalan dengan baik usaha ini bisa menghasilkan omset yang besar. Perawatan ikan lele ini pun juga tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak biaya.
Dari perkiraan yang saya lakukan pada sub bab perencanaan keuangan di bab sebelumnya menunjukkan Pendapatkan laba Rp12.145.000 bagaimana bila usaha ikan lele ini sudah dijalankan dalam jumlah yang lebih besar, tentu keuntungan yang didapat juga akan jauh lebih besar.




DAFTAR PUSTAKA



Penulis : chandra yulindra ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel contoh makalah perencanaan bisnis ini dipublish oleh chandra yulindra pada hari Wednesday, 26 June 2013. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan contoh makalah perencanaan bisnis
 
Reactions: 

0 comments:

Post a Comment